Monday, April 30, 2012

Gairah Tanpa Sebab

Di dalam keadaan gairah tanpa sebab, terdapat intensitas yang bebas dari segala kemelekatan; tetapi jika gairah mempunyai sebab, terdapat kelekatan, dan kelekatan ini awal dari kesedihan. Kebanyakan dari kita melekat, kita melekat kepada seseorang, kepada suatu negeri, kepada suatu kepercayaan, kepada suatu gagasan, dan apabila obyek kelekatan kita diambil, atau karena suatu hal kehilangan maknanya, kita mendapati diri kita kosong, tidak memadai. Kekosongan ini kita coba untuk dipenuhi dengan melekat kepada sesuatu yang lain, yang lagi-lagi menjadi obyek gairah kita.

Periksalah hati dan pikiran Anda. Saya hanya sekadar cermin, yang di dalamnya Anda memandang diri Anda sendiri. Jika anda tidak mau memandang, silakan; tetapi jika Anda ingin memandang, pandanglah diri Anda dengan jelas, tak kenal ampun, dengan intens—bukan dengan harapan untuk melenyapkan kesengsaraan Anda, kecemasan Anda, perasaan bersalah Anda, tetapi untuk memahami gairah luar biasa ini yang selalu membawa pada kesedihan.

Bila gairah mempunyai sebab, ia menjadi nafsu. Bila ada gairah untuk sesuatu—untuk seseorang, untuk suatu gagasan, untuk semacam pemenuhan—maka dari gairah itu timbul kontradiksi, konflik, daya upaya. Anda berjuang untuk mencapai atau mempertahankan suatu keadaan tertentu, atau menghadirkan kembali suatu keadaan yang pernah ada dan sudah lenyap. Tetapi gairah yang saya bicarakan tidak menimbulkan kontradiksi, konflik. Gairah itu sama sekali tak berhubungan dengan suatu sebab, dan oleh karena itu ia bukan akibat.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Sunday, April 29, 2012

Gairah yang Hilang

Kata bukanlah halnya. Kata ‘gairah’ bukanlah gairah. Untuk merasakan itu dan terperangkap di dalamnya tanpa suatu kehendak atau arah atau maksud, untuk menyimak kepada apa yang disebut keinginan ini, menyimak keinginan-keinginan yang Anda miliki, yang banyak jumlahnya, kuat atau lemah—bila Anda lakukan itu, Anda akan melihat betapa besar kerusakan yang Anda lakukan jika Anda menekan keinginan, jika Anda mendistorsikannya, jika Anda ingin memenuhinya, jika Anda ingin melakukan sesuatu tentang itu, jika Anda mempunyai opini tentang itu.

Kebanyakan orang telah kehilangan gairah ini. Mungkin kita memilikinya ketika kita masih muda—untuk kelak menjadi orang kaya, untuk menjadi termasyhur, dan menjalani kehidupan borjuis dan terhormat; mungkin kita menggumamkannya secara tidak jelas tentang itu. Lalu orang harus menyesuaikan diri dengan Anda, Anda yang mati, yang terhormat, yang tidak memiliki bahkan sepercik gairah; lalu orang menjadi bagian dari Anda, dan oleh karena itu juga kehilangan gairah.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Saturday, April 28, 2012

Batin Yang Remeh

Batin yang bergairah meraba, mencari, menerobos, tidak menerima tradisi apa pun; ia bukan batin yang mempunyai ketetapan, bukan batin yang telah sampai, melainkan batin muda yang terus-menerus sampai.

Nah, bagaimanakah batin seperti itu muncul? Itu harus terjadi. Jelas, batin yang remeh tidak bisa melakukannya. Sebuah batin remeh yang mencoba menjadi bergairah hanya akan memerosotkan segala sesuatu ke dalam keremehannya sendiri. Itu harus terjadi, dan itu hanya akan terjadi apabila batin melihat keremehannya sendiri, namun tidak mencoba berbuat apa-apa terhadap keremehan itu. Apakah saya jelas? Mungkin tidak. Tetapi, seperti saya katakan tadi, setiap batin yang terbatas, betapa pun inginnya, masih tetap remeh; itu jelas. Batin yang kerdil, sekalipun ia mampu pergi ke bulan, sekalipun ia bisa memperoleh suatu teknik, sekalipun ia bisa berdebat dan membela diri dengan cerdik, adalah tetap batin yang kerdil. Jadi, bila batin yang kerdil bertanya, ”Saya harus bergairah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat,” jelas gairahnya sangat remeh, bukan?—seperti marah-marah tentang suatu ketidakadilan yang remeh, atau mengira seluruh dunia ini akan berubah berkat pembaruan-pembaruan kecil dan remeh yang dilakukan di sebuah desa kecil yang angkuh oleh suatu batin yang kerdil dan angkuh pula. Jika batin yang kerdil itu melihat semua itu, maka persepsi bahwa dirinya kerdil itu sendiri cukup, maka seluruh kegiatannya mengalami perubahan.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Friday, April 27, 2012

Batin Yang Bergairah Akan Menyelidik

Jelas harus ada gairah, dan masalahnya adalah bagaimana menghidupkan kembali gairah. Harap jangan salah paham. Saya maksudkan ’gairah’ dalam arti apa pun, bukan hanya gairah seksual, yang adalah sangat remeh. Dan kebanyakan dari kita merasa puas dengan itu, karena semua gairah yang lain telah musnah—di kantor, di pabrik, dengan mengikuti pekerjaan, rutinitas, teknik belajar tertentu—jadi tidak ada lagi gairah yang tertinggal; tidak ada rasa mendesak dan pelepasan yang kreatif. Oleh karena itu, seks menjadi penting bagi kita, dan di situ kita tersesat di dalam gairah remeh, yang menjadi masalah besar bagi batin yang sempit dan saleh, atau kalau tidak, segera menjadi kebiasaan dan mati. Saya menggunakan kata ’gairah’ sebagai suatu totalitas. Seorang yang penuh gairah, yang merasakan dengan kuat, tidak puas dengan sekadar memiliki suatu pekerjaan remeh—apakah itu pekerjaan perdana menteri, pekerjaan juru masak, atau pekerjaan apa pun. Batin yang bergairah akan menyelidik, mencari, menatap, bertanya, menuntut; bukan hanya sekadar mencari bagi ketidakpuasannya suatu obyek yang bisa memenuhi dirinya lalu pergi tidur. Suatu batin yang bergairah akan meraba-raba, mencari, menerobos, tidak menerima tradisi apa pun; ia bukan batin yang mempunyai ketetapan, bukan batin yang telah sampai, melainkan batin muda yang terus-menerus sampai.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Thursday, April 26, 2012

Percayalah, Cinta Adalah Gairah

Anda tidak mungkin peka jika Anda tidak penuh gairah. Jangan takut akan kata ’gairah’. Kebanyakan buku agama, kebanyakan guru, swami, pemimpin dsb berkata, ”Jangan punya gairah.” Tetapi jika Anda tidak punya gairah, bagaimana Anda bisa peka terhadap yang buruk, terhadap yang indah, terhadap dedaunan yang berdesir, terhadap matahari terbenam, terhadap secercah senyum, terhadap sebuah tangis? Bagaimana Anda bisa peka tanpa suatu rasa gairah yang di situ orang melupakan-diri? Tuan, harap dengarkan saya, dan jangan bertanya bagaimana caranya mendapatkan gairah. Saya tahu Anda semua cukup bergairah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, atau untuk membenci seorang yang malang, atau cemburu kepada seseorang; tetapi saya berbicara tentang sesuatu yang sama sekali lain—gairah yang mencinta. Cinta adalah keadaan yang di situ tidak ada sang ”aku”; cinta adalah keadaan yang di situ tidak ada pengutukan, tidak ada pernyataan bahwa seks itu benar atau salah, bahwa ini baik dan yang lain jelek. Cinta bukan salah satu dari hal-hal yang saling bertentangan ini. Kontradiksi tidak ada di dalam cinta. Dan bagaimana kita bisa mencinta jika kita tidak bergairah? Tanpa gairah, bagaimana kita bisa peka? Peka berarti merasakan tetangga Anda yang duduk di sebelah Anda; melihat keburukan kota dengan kekumuhannya, kekotorannya, kemiskinannya, dan melihat keindahan sungai, laut, langit. Jika Anda tidak bergairah, bagaimana Anda bisa peka terhadap semua itu? Bagaimana Anda dapat merasakan seulas senyum, setetes air mata? Percayalah, cinta adalah gairah.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Wednesday, April 25, 2012

Gairah untuk Segala Sesuatu

Bagi kebanyakan dari kita, gairah digunakan hanya dalam kaitan dengan satu hal, yakni seks; atau Anda menderita dengan bergairah dan Anda mencoba memecahkan penderitaan itu. Tetapi saya menggunakan kata ’gairah’ untuk suatu keadaan batin, suatu keberadaan, keadaan dari inti batin Anda—jika itu ada—yang merasa secara kuat, yang amat peka—sama pekanya terhadap debu, terhadap kekumuhan, terhadap kemiskinan, dan terhadap harta kekayaan yang melimpah dan korupsi, terhadap keindahan sebatang pohon, terhadap seekor burung, terhadap air yang mengalir, dan terhadap sebuah kolam yang memantulkan langit senja. Adalah perlu untuk merasakan semua ini secara intens, secara kuat. Oleh karena tanpa gairah hidup ini kosong, dangkal, tak punya banyak arti. Jika Anda tidak dapat melihat keindahan sebatang pohon, dan mencintai pohon itu, jika Anda tak dapat peduli dengan itu secara intens, Anda tidak hidup.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti

Tuesday, April 24, 2012

Keindahan di Luar Perasaan

Tanpa gairah bagaimana bisa ada keindahan? Maksud saya bukan keindahan lukisan, bangunan, gambar perempuan, dan sebagainya. Semua itu mempunyai wujud keindahannya sendiri. Suatu benda yang dibuat oleh manusia, sebuah katedral, kuil, lukisan, puisi, patung, mungkin indah atau tidak. Tetapi ada keindahan yang di luar perasaan dan pikiran, dan yang tak dapat disadari, dipahami, atau diketahui jika tidak ada gairah. Jadi, jangan salah paham akan kata ’gairah’. Itu bukan kata yang buruk; itu bukan sesuatu yang bisa Anda beli di pasar atau dibicarakan secara romantis. Ia tak punya kaitan sama sekali dengan emosi, perasaan. Itu bukan sesuatu yang terhormat; itu adalah api yang memusnahkan segala sesuatu yang palsu. Dan kita selalu takut membiarkan api itu melalap hal-hal yang kita cintai, hal-hal yang kita sebut penting.

The Book Of Life
Jiddu Krishnamurti